RSS

Usaha saja…

iman kita agaknya bukan bongkah batu karang yang tegak kokoh
dia hidup bagai cabang menjulang dan dedaun rimbun
selalu tumbuh dan menuntut akarnya menggali kian dalam
juga merindukan cahaya mentari, embun, dan udara pagi

Kita masih bicara tentang iman. Dengan akarnya yang teguh, kita bergayut memelukkan keyakinan. Hunjamannya yang dalam menjadi pengokoh pijakan kaki. Kita berharap tak terusik dilanda badai. Kita tak ingin hanyut, tak hendak luruh dipukul rebut.

Tetapi iman itu kadang tergelisahkan. Atau setidaknya mengajarkan ketenangan yang mengguyuri hati, dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada rabbnya untuk dtunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”. Dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasanya dalam satu kata “Kun!”, Kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersusah payah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung . Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan burung-burung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban.

IMAN

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohonan tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah kerana lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putra semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung cuba ditelisiknya dengan saksama. Tak ada. Sama sekali tak ada. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia tak akan menyia-nyiakan kami!”

Maka keajaiban itu memancar. Zamzam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Ismail yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang mejejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita, mari belajar pada Hajar bahawa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahawa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas iradahNya yang Maha Kuasa.

Dan biarkan keajaiban itu menyenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ibrah. Dari Makkah dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatu pun kekayaan yang dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia Abdurrahman bin ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah dan mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya: Sa’d Ibnu Rani’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi sama rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata “Tidak Saudaraku. Tunjukkan saja jalan ke pasar! “

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qur’ani di pasar Madinah, terbitlah kejaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Aufmemang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qur’ani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat denga kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba,timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulullah, aku sudah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40,000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenalnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga dengan merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam fikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahawa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu?

Usaha saja

Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal belayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya.“Tuan-tuan,” suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher.” Kata seorang tua, “itu adalah hal yang mustahil!”
Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa,” kata Columbus. Dia menyeringai sejenak kemudian memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh… kalau begitu caranya, kami juga bisa!” kata seseorang. “ Ya… ya… ya… “, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahawa hal mudah itu mustahil!”

Dalam dekapan ukhuwwah, bekerjalah, beramallah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Kerana dalam keberanian memulai itu terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, kita beramal, kerana bekerja dan beramal adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya

“ Bekerjalah hai keluarga Dawud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur” (Qs Saba’ [34]: 13)

andai si biji hanya menumbuhkan akarnya
tanpa kehendak untuk tampil dengan batang
menggapai langit dengan ranting cabang
jadilah dia bangkai yang layaknya memang terkubur dalam-dalam

Ketika pun dunia dipenuhi maksud baik dan hati yang berbudi, maka yang membezakan manusia satu dengan yang lain adalah aksi dan amal mereka. Dan bumi menanti makhluk yang diamanahi pemakmurannya ini mengerjakan amal shalih, kerja-kerja ketaatan, dan laku-laku kebajikan.

Sebuah biji awal-awal menumbuhkan akar sebagai tempat berpijak sekaligus wasilah mengambil makanan. Lalu dengan itu dia menyeruakkan diri ke atas, bekerja keras membelah bumi dan tanah padas,untuk tampil di permukaan. Sejalan dengan akarnya yang kian menghujam,meneguhkan, dan mencerangkah makanan, batang dan daunnya semakin tegak meninggi. Dia membongsorkan pokoknya, menambah rerantingnya dan melebatkan daun-daunnya.

Itu semua adalah sunnatullah yang niscaya.

Maka amal shalih, kerja-kerja ketaatan, dan laku-laku kebajikan, kata Sayyid Qutb dalam Zhilal, adalah batang yang tumbuh tegak secara alami dari keimanan yang telah berakar dalam jiwa. Mereka adalah gerak yang bermula pada detik di mana hakikat keimanan itu menghunjam di dalam hati. Maka keimanan adalah hakikat yang aktif dan energik. Begitu hakikat keimanan menghunjam dalam nurani, maka pada saat itu pula ia bergerak mengekspresikan dirinya di luar dalam bentuk amal shalih.

Itulah iman islami! Tidak mungkin tinggal diam tanpa gerak, atau tersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang dinamis di luar diri sang mukmin. Jika tak bisa melahirkan gerakan yang alami tersebut maka keimanan itu adalah palsu atau mati. Sama seperti bunga yang tidak bisa menahan semerbak wewangiannya. Ia pasti mucul secara alami. Jika tidak, bisa dipastikan wujud di dalamnya pun tiada!

“Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin akan melihat amal-amal kalian itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (Q.s. [9]:105)

Amal-amal itulah yang membuat kita menjulang, menggapai cakrawala yang luas dan mampu memberi naungan dengan rimbun daun-daun. Amal-amal itulah yang membuat kita dilihat dan berharga dihadapan Allah , rasulNya dan para peyakin sejati. Amal-amal itulah yang mengantarkan iman kita menggapai tempat di dekat ‘arsyNya yang mulia. Amal-amal itulah yang menghantarkan pinta dan doa kita ke haribaanNya.

Dalam dekapan ukhuwwah,mahfuuzhat masyhur itu begitu gugah. “Bekerjalah untuk duniamu,” demikian dikatakan, “seolah engkau akan hidup abadi. Dan beramallah untuk akhiratmu seakan engkau mati seok hari.” Dalam dekapan ukhuwwah, beramallah. Maka Allah, rasul dan orang-orang beriman akan melihat amal-amal kita dengan senyum dan bahagia…

Bekerja, Maka Keajaiban.
Dalam Dekapan Ukhuwwah, Salim A. Fillah

 
Leave a comment

Posted by on June 14, 2013 in Uncategorized

 

Sekejap sahaja lagi

Apabila belajar bersungguh-sungguh semata-mata kerana exam yang dah sangat dekat,
Apabila belajar Perubatan hanya kerana bercita-cita nak jadi doktor, nak gaji banyak,
Apabila berusaha menjadi soleh/ah untuk digandingkan dengan si dia yg soleh/ah,
Apabila belajar sungguh-sungguh sebab nak berjaya, nak graduate, nak gembirakan mak ayah,

Tiba-tiba mati sebelum exam,
Tiba-tiba mati sebelum jadi doktor,
Tiba-tiba mati sebelum kahwin,
Tiba-tiba mati sebelum semua tu.

Tidakkah sia-sia sahaja apa yg di cita-citakan semua ini?
Maka hendaklah kita melakukan segalanya IKHLAS untuk Allah.
Dan apabila kita pulang bertemu Allah, tiadalah hanya tangan kosong yg kita bawa bertemuNya

859384_463821540351088_1091475093_o (1)

Bercita-cita tinggilah!
Bekerja keraslah!
Seolah olah kita akan hidup seribu tahun lagi.

Namun, jangan lupa bahawa kita mungkin akan dipanggil menghadap Ilahi sekejap sahaja lagi.
Jangan lupa bahawa kita mungkin akan dipanggil menghadap Ilahi sekejap sahaja lagi.

 
Leave a comment

Posted by on March 1, 2013 in Uncategorized

 

Mahu juga menjadi sepertinya…

Mereka bertemu mereka di sana

Mereka bertemu mereka di sana

Mahu juga berada di sana

Mahu  juga menjadi sepertinya

Mahu juga menjadi sepertinya

Furkan Dogan
20/10/1991 – 31/5/2010

Nota : Happy Birthday Ummi!

 
Leave a comment

Posted by on January 15, 2013 in free filistine

 

Tourette Syndrome, Penyakit Kenan

How Tourette Syndrome Made Me The Teacher I Never Had

How Tourette Syndrome Made Me The Teacher I Never Had

Growing up with TS is never easy. It is important for people to understand that TS is not a behavior problem. It is a neurological disorder.
The people who have tics don’t choose to do them.
They don’t want to do them.
The hardest thing about living with TS is ignorance; it is the people who don’t know and those who don’t want to know.
Once others are educated, it makes those with TS feel a lot more at ease.
Also note that not everyone with TS curses. It is a bad stereotype that Hollywood has given the condition. The fact is that fewer than 10 percent of those with TS have this cursing which is called corporlalia.

Novel Front of The Class

Dipetik daripada novel hasil karya Brad Cohen, yang mana buku ini menceritakan kisah benar yang berlaku kepada beliau sendiri dan perjalanan hidup yang dilalui beliau. Sindrom tourette yang dialami bisa membuatkan beliau lemah semangat untuk ke sekolah kerana menjadi mangsa buli dan tidak disukai oleh guru-guru dengan kelakuan yang dikatakan menjengkelkan itu. Keadaan diburukkan lagi apabila ayahnya tidak dapat menerima kenyataan dengan penyakit yang dihadapi oleh anak lelakinya itu.

Tetapi kelakuan yang tidak mampu dikawal yang mana kadang-kadang berbunyi seperti anjing menyalak disertai pergerakan-pergerakan yang agak pelik itu tidak mematikan semangat beliau untuk berjaya. Malah beliau mampu menjadi diri sendiri dan mencapai impiannya untuk menjadi seorang pendidik kepada anak bangsa.

Ini adalah Tourette Syndrome

Sindrom ini adalah keadaan di mana ada sedikit masalah di otak dan saraf lalu menghasilkan bunyi-bunyi pelik dan gerakan-gerakan luar kawal. Keadaan ini tidak mampu dikawal oleh pesakit tersebut. Namun, beliau masih boleh hidup seperti manusia biasa. Penyakit ini tidak berjangkit dan apa yang mereka perlukan hanyalah penerimaan masyarakat sekeliling tentang itu hanya sedikit refleks yang dialami oleh mereka sepertimana manusia biasa tidak mampu menahan untuk bersin.

Dan saya menyarankan kalian menyaksikan filem ini, yang diadaptasi daripada novel Front of The Class.

front-of-the-class

A very very very inspiring movie.

“What can I learn from this Tourette syndrome?”

And his very cute pupils replied,
” You learn to keep going “
” You learned not to let it stop you “
” You learned not to let it win “

” Can you frame that words to show until Monday? ” :D :)

Semoga ini dapat membantu masyarakat sekeliling memahami keadaan mereka anak-anak anugerah Allah ini, dan tidak membalas kelakuan anak-anak dengan memarahi dan mengherdik mereka.

Di sini link artikel ustaz HASRIZAL tentang sindrom ini, namun tidak dapat diakses daripada blog beliau sendiri. KLIK DI SINI. Moga beroleh manfaat.

 
Leave a comment

Posted by on December 30, 2012 in Erti Kehidupan, Medicines

 

When You Ask, Listen Well !

Dengan Nama Allah

Sedikit apa yang mengesankan di hati saya, saya ingin kongsi kepada kalian yang membaca celoteh saya.

Seorang sahabat pernah menyatakan satu statement berbunyi ” When You Ask, Then Listen! “

Setiap hari, sebanyak berbelas-belas kali kita meminta kepada dia.
Setiap fajar, setiap tengahari, setiap petang, setiap senja malahan sehinggakan setiap malam kita meminta-minta kepada dia.

Akan tetapi, banyak permintaan kita yang ditunaikan. Berkali-kali jawapan diberi, namun kita dengan angkuhnya menolak sebahagian pemberian-pemberian itu. Angkuhkan kita?

Permintaan kita itu berbunyi
” Tunjukkanlah aku ke jalan yang lurus ” 1:6

If he can, why don't I?

If he can, why don’t I?

Bilamana kita diajak pergi smart circle, diajak pergi kelas tafaqquh fid deen, diajak mendengar nasihat, diajak membaca buku-buku tertentu, kita menjawab
“tak pe lah bro, lain kali lah”
“alah, aku busy ni”
“takpe lah, tunggu cuti lah”
“ajak orang lainlah “

Berpuluh-puluh kali malah ratusan kali kita meminta. Dan Dia juga menjawab, namun banyak yang kita abaikan.

Maka wahai saudaraku, sambutlah jawapan yang Allah hadiahkan kepada kita itu. Terimalah ajakan. Pergilah ke mana-mana yang bisa mendekat diri kita dengan Dia yang Maha Penyayang.

Kerana apa?
Kerana hidup ini bukan hanya sekali.

Ada kehidupan satu lagi yang mana nasibnya bergantung kepada bagaimana sambutan kita dengan Jawapan-jawapan yang Allah telah berikan kepada kita

Banyak manakah yang sudah kita semai untuk mendapatkan hasilnya di sana?

Marilah sama-sama kita menanam untuk masa depan yang lebih cerah dan membahagiakan

 
Leave a comment

Posted by on December 18, 2012 in Erti Kehidupan, Tazkiyatun Nafs

 

Kertas Putih Itu

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dengan nama Allah saya mulakan

Muhammad Al-Amin saw bersabda ” Setiap anak yang dilahirkan itu adalah umpama kain putih (fitrah), ibu bapalah yang bertanggungjawab mewarnakan dan mencorakkannya, sama ada menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi … [Bukhari dan Muslim]

“Prof Dr Muhaya berkata ” Kanak-kanak bawah 6 tahun ni, otaknya akan install semua yg dia nampak, yg dia dengar. download tu laju je. jadi marilah kita download’kan yg bersih semata-mata untuknya “

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan ‘laailaha illallah’ dan ajarilah ia agar di akhir hayatnya mengucapkan ‘lailalaha illallah’.”
sumber : http://halaqahkeluarga.wordpress.com/2012/02/22/islamic-parenting-usia-0-3-bahagian-6/

semoga Iffah jadi anak solehah ya pada abi, pada ummi, pada makcik-makcik dan pakcik-pakcik yang selalu main dengan Iffah, pada masyarakat, pada ummah dan pada Islam.

Biar jadi macam Umar yang soleh ini.
” Umar sekarang selalu nyanyi “ Mandi kerana Allah, makan kerana Allah, tidur kerana Allah, pakai baju kerana Allah, BO kerana Allah … “
sumber : http://ourkhalifatullah.blogspot.com/2012/04/umar-first-sport-day.html

Wahai ibu, wahai bapa. Kalianlah yang mencorak kami.
Juga kepada bakal-bakal ibu dan bakal-bakal bapa. Kalian hari ini adalah kami pada masa hadapan.

dan saya akhiri post anak kecil yang comel ini dengan gambar yang paling comel dan pesanan daripada Abu Saif.

Kanak-kanak hanya beberapa tahun di peringkat usia.
Anak-anak, semenjak lahir, selagi hayat dikandung badan.
Semasa mereka comel, mereka anak-anak.
Semasa mereka kanak-kanak, mereka anak-anak.
Semasa mereka remaja, mereka anak-anak.
Semasa mereka dewasa, mereka anak-anak.
Semasa mereka menjadi ibu bapa kenapa anak-anak pun, mereka masih anak-anak.

sumber : http://saifulislam.com/?p=11411

Nota 1 : Kepada ibu-ibu dan bapa-bapa muda. Tolonglah! Tolonglah tambah ilmu keibubapaan anda. Kasihanilah anak-anak itu apabila ibu-ibu hanya mampu melahirkan, tapi tidak tahu nutrisi terpenting untuk mereka, tidak tahu kepentingan sinaran cahaya matahari untuk anak-anak yang baru lahir. Ya, saya kasihan melihat mereka sepanjang di round Paediatrics sebulan lalu.

Nota 2 : Namun, arahan Allah ini adalah yang lebih penting. “Wahai orang beriman, selamatkanlah diri kamu dan ahli keluarga kamu dari api neraka.” At-Tahrim : 6

Nota 3 : Motivasi untuk bapa-bapa. klik sini

Nota 4 : Allahumma baariklana fi Rajab wa Sya’ban waballighna Ramadhan

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2012 in Erti Kehidupan, Medicines

 

Seharusnya Ia Berkembang dan Terus Berkembang

Proses tarbiyah umpama menyemai benih, menjaga dan memeliharanya sehingga menjadi sebatang pokok yang rendang, hidup dan subur.

Proses tarbiyah umpama menyemai benih, menjaga dan memeliharanya sehingga menjadi sebatang pokok yang rendang, hidup dan subur.

Nota Tarbiyah – ingin membawa kita menyusuri semula akan hakikat tarbiyah (pendidikan) diri kita. Kita semua hajatkan kepada proses ini kerana tanpanya keimanan kita tidak akan sejahtera dan kuat.

Bahkan, dibimbangi akan terus malap, gersang dan kian rosak.

Semalam, Murabbi dalam perjumpaan mingguan menyentuh suatu perkara. Katanya buat renungi kita semua :

Hari ini, ana lihat – dikalangan adik-adik, muda-mudi dan anak-anak kita banyak membincangkan soal perkahwinan dan kahwin sahaja. Lihatlah, facebook dan blog mereka. Apa yang dibincangkan.

Seumpama, tiada perkara lain yang lebih aula dan utama untuk dibincangkan. Tidak salah, namun seolah-olah itulah corak dan pemikiran yang mampu mereka fikirkan. Tiada agenda yang lebih besar.Sebagai individu yang melalui proses ini, lebih banyak perkara besar yang harus kita fikirkan. Tanyalah diri kita, soallah hati kita dan jujurlah dengan keadaan jiwa kita.

Sudahkah kita memahami, meneliti dan membincangkan bahan-bahan serta buku-buku yang dapat memperingkatkan kefahaman kita tentang Islam?

Jika ya, soal semula. Sudah berapa banyak buah buku ulama muktabar yang dibelek-belek, ditelaahi dan dibaca? Sudah ia dihadam dan dibincangkan serta dirumuskan bersama rakan-rakan?

Tersentak kami semalam, banyak sungguh perkara yang disoal dan ditanyakan murabbi yang membuatkan semua terdiam membisu. Bukan segan atau hormat kepada yang lebih berusia semata-mata.

Tetapi, kerana kami tidak tahu. Allah!

Lalu, pelbagai soalan dan muhasabah menerjah minda kami.Masa-masa yang berlalu, dengan aktiviti apakah ia dimanfaatkan? Adakah untuk tujuan peningkatan amal dan diri? Atau menghabis masa dengan dunia online seperti facebook, twitter, blogger dan sebagainya? Atau dengan dunia bacaan novel-novel cintan atau permainan gamers?

Bagaimana dengan Al-Quran? Adakah setiap hari jiwa ini mendapat sentuhan rohani daripadanya.

Bagaimana dengan zikrullah? Pernahkah melaziminya dalam setiap detik kehidupan.

Bagaimana dengan amalan-amalan sunnat yang lain? Adakah kita benar-benar mencintai Rasulullah SAW atau dakwaan kosong?

Bagaimana dengan usaha dakwah? Adakah ia hanya retorik semata-mata?

Kata murabbi :

“ Wahai anak-anak muda, antum perlu perkukuhkan diri antum. Kukuhkan ia dengan hubungan dengan Allah SWT.Persiapan diri dan persediaan hati sekarang ini juga. Carilah kekuatan melalui ibadah qiamullail, membaca Al-Quran dan berdakwah!.”“

Antum perlu meningkat dan meningkat. Berkembang, berkembang dan terus berkembang.”

Menjadi pokok yang kukuh akarnya,batang yang teguh, dahan yang kuat, dedaunan yang menghijau serta hidup subur memberikan manfaat kepada sekelilingnya.

Menjadi pokok yang kukuh akarnya,batang yang teguh, dahan yang kuat, dedaunan yang menghijau serta hidup subur memberikan manfaat kepada sekelilingnya.

Terfikir panjang kami semalam. Allah! – Lalainya kami, lemahnya kami serta alpanya kami. Hal tarbiyah ini harus dilihat secara bersistem, serius dan terus menerus dengan konsisten.

Saya, meneliti semula sebuah taujih tulisan Dr Radwan Muhammad Sobhi mengenai tarbiyah.
Susunan dan penjelasannya mengenai tarbiyah sangat mengesani dan mudah difahami. Justeru, marilah sama-sama kita semak. InsyaAllah.

Katanya :

Tarbiyah bermaksud pengembangan, iaitu peningkatan. Diriwayat oleh seorang teman Imam Ahmad bin Hanbal, yang menggambarkan kehidupan Imam, ia berkata: “Demi Allah, saya telah bersahabat dengannya selama dua puluh tahun, sama ada musim panas atau musim sejuk, ketika cuaca panas atau sejuk, pagi dan petang, apa yang saya dapati pada setiap hari beliau lebih baik dari sebelumnya”.

Tarbiyah juga bermaksud penjagaan dalam ertikata menjaga, membangun dan hidup bersama (muayasyah).

Disebutkan dari guru terbilang Imam al-Ghazali rahimahullah, ia berkata : “Tarbiyah bukanlah menabur benih di dalam tanah dengan harapan untuk tumbuh, tetapi bermaksud memastikan benih ini tumbuh dengan melakukan penjagaan, membuang serangga perosak yang ada di sekelilingnya, menyiram air dan melindungi dari angin kencang. Hasilnya dengan kehendak Allah bahawa benih itu akan tumbuh dan berkembang menjadi pohon yang menjulang tinggi”.

Rumusan dari apa yang mereka katakan tentang tarbiyah, ialah pengosongan dengan menghapuskan setiap perkara yang bertentangan dengan nilai-nilai dan akhlak Islam, dan memenuhi tempat yang kosong dengan meletakkan nilai-nilai dan akhlak Islam sebagai tempat yang tertinggi, dan tiba tugasan ketiga iaitu mengukuhkan; dengan makna memelihara dan mempertahankan lanjutan proses pengosongan.

Para murabbi mengatakan bahawa tarbiyah bererti seni berurusan yang bertahap dengan jiwa manusia, untuk membawanya kepada kesempurnaan.

Apa kesimpulannya :

Tarbiyah itu menuntut kepada peningkatan dan pengembangan.
Langkah-langkah melalui proses tarbiyah ialah

Satu,
Kosong dan hapuskan rawasib (karat-karat) jahiliyah dalam diri

Dua,
digantikan dengan nilai-nilai Islam yang tertinggi

Tiga,
perlu sentiasa – Mengukuhkan, menjaga dan memeliharanya sehingga mencapai kesempurnaan.

Itulah, tarbiyah. Usaha dan kerjanya terus menerus sehingga kita kembali bertemu Allah SWT. Ramai kata susah, payah dan getir.

Ya, itulah kaedahnya. Jalan menuju Allah SWT dalam meraih syurga sememangnya begini coraknya. Para Rasul, Nabi, Sahabat, Tabiin, para ulamak, pejuang Islam dan semuanya telah melalui corak ini. Sekiranya, kita tidak berada dalam track ini – bermakna kita telah berada pada penyimpangan yang nyata!

Buat Muhasabah Diri Ini – BH

dipetik dari http://brohamzah.blogspot.com/2011/09/tarbiyah-seharusnya-berkembang-dan.html

 
Leave a comment

Posted by on September 20, 2011 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.